KEPEMIMPINAN, PENGEMBANGAN
ORGANISASI, DAN MASYARAKAT
Oleh Hadi Maryono
Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan,
Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas Negeri Semarang
abstrak
Organisasi
pada dasarnya digunakan sebagai tempat dimana orang-orang berkumpul,
bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin
dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin,metode,
lingkungan), sarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam organisasi kita
dapat memperoleh ilmu, teman dan juga pengalaman yang bisa menjadikan kita
berubah menjadi lebih aktif berfikir dan juga menumbuhkan jiwa kepemimpinan
yang bagus untuk masa mendatang yang akan diterapkan pada masyarakat dan
organisasi itu sendiri , namun ada beberapa hal yang berdampak negatif pada
organisasi yaitu organisasi cenderung lebih suka mengelompokkan diri dan
apatis, sehingga terkadang mereka akan lupa dengan apa yang ada disekitar
terutama di organisasi kemahasiswaan yang antara lain banyaknya aktivis, organisasi
kemahasiswaan yang merupakan ‘mahasiswa
abadi' atau mahasiswa rawan drop out (DO).
Banyak hal yang melatar belakangi mengapa hal ini terjadi, sehingga alangkah
baiknya bila kita tengok sosok mahasiswa yang ada di kampus. menyikapi hal ini,
perlu dilakukannya sebuah pemikiran yang dapat merubah pola pikir mereka agar
tidak terlalu terpacu dengan kegiatan organisasi dan berlatih untuk bisa
mengimbangi antara organisasi dan kegiatan lainnya yang tidak kalah penting
Kata kunci
: organisasi, pemimpin dan masyarakat
1. Pendahuluan
Dalam kenyataannya para pemimpin
dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja
dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan
kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai
tujuan mereka. Kemudian timbul pertanyaan yang membuat seorang pemimpinan efektif? Apa hampir semua orang, bila
diajukan pertanyaan itu akan menjawab bahwa pemimpin efektif mempunyai sifat
atau kualitas tertentu yang diinginkan. Kemampuan dan keterampilan kepemimpinan
dalam pengarahan adalah faktor penting dalam mengatur suatu program dalam
organisasi , bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas–kualitas yang
berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menyeleksi pemimpin-pemimpin
efektif akan meningkat , bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan
teknik-teknik kepemimpinan efektif, akan dicapai pengembangan efektifitas
personalis dalam organisasi.
Pada dasarnya berorganisasi itu
memaksa kita untuk ikut berpartisipasi aktif
dalam pmecahan masalah yang didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau
perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan
sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan. Keterlibatan aktif
berpartisipasi dalam organisasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata. Partisipasi
dapat diartikan sebagai keterlibatan mental,
pikiran, dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai
tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan, untuk
mengatasi masalah yang ada di sebuah organisasi. Sebagaimana yang diterangkan
Menurut Keith
Davis ada
tiga unsur
penting partisipasi yaitu :
Unsur pertama,
bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan
mental dan perasaan, lebih daripada
semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
Unsur kedua
adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti,
bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu
kelompok.
Unsur
ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut
merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai
anggota artinya ada rasa “sense of
belongingness”.
1.
Organisasi Kemahasiswaan
Dan Perannya di Universitas
Lembaga organisasi kemahasiswaan di
universitas memang sangat beragam dan jumlahnya juga tidak sedikit, maka dengan
kata lain banyak mahasiswa yang memiliki potensi untuk berkembang dan membuat
suatu forum yang akan di bentuk dan mengelola dari suatu forum tersebut, dalam
organisasi mahasiswa itu mereka akan membuat gerakan atau sebuah indakan yang
dijadikan suatu rutinitas dari organisasi tersebut yang sekiranya bermanfaat
bagi diri mereka ataupun untuk orang lain, namun pada kenyataan, hasil survey
dan observasi, beberapa dari mereka itu malah cenderung fokus dan mewajibkan
suatu organisasi yang mereka bentuk tersebut , mungkin karena mereka begitu menikmatinya
dan merasa nyaman dengan kegiatan tersebut atau pun mereka hanya ingin besenang
senang dan tidak menghiraukan kewajiban utama mereka sebagai mahasiswa yaitu
“kuliah” sehingga menyebabkan mereka menjadi juru kunci universitas atau bisa
disebut dengan mahasiswa abadi, bahkan ada yang sampai 14 semester tidak lulus
kuliah gara-gara berkecimpung di dunia organisasi, ini merupakan kisah nyata
yang diceritakan oleh bapak “Abdul Malik ( dosen Pengantar Ilmu Pendidikan di
Universitas Negeri Semarang ) ” pada masa itu, masih ada dispensasi yaitu dua
pilihan yang pertama di drop out (DO) dari universitas, dan yang kedua diberikan
gelar D3 yang seharusnya S1.
Lalu apa yang mereka peroleh dari
pengabdian organisasi yang mereka kelola itu? Ada beberapa pendapat
mengemukakan bahwa mereka yang menekuni organisasi hingga tidak mengurusi
kuliah, itu cenderung lebih bisa bersinkronisasi dengan masyarakat luas dan
mereka itu lebih memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus walaupun dulunya IPK nya
dibawah 3,00 dan kuliahnya tidak begitu teratur, tapi mereka mendapatkan
pendidikan karakter kepemimpinan di organisasi tersebut.
Selanjutnya, yang menjadi
persoalannya yaitu bagaimanakah metode atau cara yang diperlukan untuk membentuk
jiwa kepemimpinan dengan berorganisasi tanpa harus menjadi juru kunci
universitas atau bahasa lazimnya mahasiswa abadi dan juga tidak melupakan
kwajiban utama kuliah? Mungkin beberapa pendapat ini bisa menjadi suatu solusi
persoalan diatas.
Pertama , menentukan
suatu tujuan dari kuliah dan mengawalinya dengan sebuah niat ataupun sesuatu
yang ingin dicapai. Pada dasarnya sesuatu itu alangkah baiknya diawali dengan
niat sebagaimana perkataan rasulullah SAW
“innamal a’malu binniat” yang bermaksud segala sesuatu itu harus diawali
dengan niat, karena niat itu akan memberikan motivasi tersendiri kepada kita untuk
mencapai tujuan tertentu.
Kedua, komitmen dan
konsisten terhadap suatu pilihan yang dituju yang sebelumnya telah dilandasi
sebuah niat, menentukan mana yang yang lebih dominan antara kuliah dan
berorganisai. Tapi ada suatu hal yang tidak bisa di pungkiri meskipunada
beberapa hal yang berbalik fakta. dalam riilnya kebanyakan mahasiswa itu lebih
dominan memilih kuliah daripada brorganisasi, karena pada hakekatnya tugas dari
mahasiswa adalah kuliah bukan berorgansasi dan organisasi itu dianggap sebagai
sampingan atau hanya sebagai pengisi waktu luang liburan kuliah atau jam
kosong.
Ketiga, mengimbangi dan
memanajemen waktu antara kuliah dan berorganisasi, metode ini merupakan metode
yang paling sulit dilakuakan karena selain memikirkan kedua hal tersebut,
mahasiswa juga harus memnagi waktu antara kuliah dan organisasi apalagi jika
jadwal kuliah dan acara dari organisasi itu bertabrakan otomatis mau tidak
tidak mau harus memilih salah satu dan meninggalkan salah satunya lagi, karena
kesulitannya itu, metode ini dianggap paling efektif untuk pembentukan jiwa
kepemimpinan melalui organisasi.
Dari hasil analisis praktek masalah
tersebut organisasi yang menjadi peranan penting di universitas dapat membentuk
karakter jiwa kepemimpinan yang bagus , ini dapat dilihat dari output mereka
setelah lulus kuliah , berbeda dengan yang hanya kuliah pulang kuliah pulang
atau istilahnhya mahasiswa kupu-kupu . mahasiswa yang berperan aktif dalam
organisasi itu akan terbiasa dengan keadaan masyarakat mulai menyampaikan
pendapat dalam musyawarah, berbicara didepan orang banyak, bahkan hingga mereka
memimpin masyarakat itu. Dari cerita bapak Abdul Malik tadi, masih ada kelanjutannya yang merupakan jawaban
fakta dari pertanyaan “Lalu apa yang
mereka peroleh dari pengabdian organisasi yang mereka kelola itu?” setelah
merasa dirinya sudah tidak pantas di organisasi itu karena umurnya, lalu ia
memilih berhenti dan mencalonkan diri sebagai kepala desa ,dan akhirnya
terpilih entah karena marketingnya atau metode yang ia pakai, padahal
sebelumnya masyarakat belum mengenal banyak tentangnya. Dengan kata lain
organisasi memang di desain untuk pada akhirnya terjun ke masyarakat luas,
sedangkan mahasiswa yang hanya mengejar IPK ( Indeks Prestasi Kumulatif )
mereka akan cenderung lebih canggung menghadapi masyarakat dan tidak mempunyai
pengalaman bermasyarakat yang dipelajari di organisasi dan cenderung
individual. (berdasarkan pendengaran
pribadi pada saat mata kuliah pengantar ilmu pendidikan di unnes,17-09-2013)
3. Pengembangan
Organisasi dan Kepemimpinan di
Masyarakat
Pengembangan organisasi merupakan sesuatu
yang direncanakan, proses yang sistematis yang memerlukan asas-asas dan praktek
ilmu perilaku yang dikenal dalam kegiatan organisasi secara terus menerus untuk
mencapai tujuan penyempurnaan organisasi secara efektif, wewenang organisasi
organisasi yang lebih besar serta efektifitas organisasi yang lebih besar. Inti
dari pengertian kedua tokoh tersebut adalah organisasi yang awalnya biasa atau
rutin bisa menjadi lebih baik , maju dan inovatif dan juga mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang selalu bergerak. Sehingga organisasi yang mengadakan
pengembangan akan memiliki kemampuan dan memenuhi tuntutan dunia globalisasi.
Kepemimpinan dalam
arti sempit adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah
kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya. Tetapi ada
beberapa tokoh yang mendefifinisikan kepemimpinan.
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24) Mendefinisikan bahwa
pemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan
langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan tertentu,
(Rauch & Behling, 1984, 46). Berpendapat
bahwa kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas
kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan
bersama Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti
(penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk
memimpin dalam mencapai tujuan
(John C. Maxwell.) mengutarakan bahwa kepemimpinan
adalah yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses
mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan
sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan
hubungan dalam kelompok atau organisasi. Beliau juga mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau
mendapatkan pengikut.
Di tinjau dari artinya yang dimaksud pemimpin
adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai
tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan
oleh seorang pemimpin. Jadi, seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai
keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/ pendapat orang
atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang
pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengatur, mengkoordinasi,
melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Seorang
pemimpin memliki karakter dan kepribadian yang lebih aktual serta jiwa
keberaniannya selalu muncul dalam memimpin anggotanya hal itu mungkin karena pemimipin itu lebih memiliki rasa
tanggung jawab dengan apa yang mereka pimpin. Karakter dan Kepribadian merupakan
sifat unik yang dimiliki setiap manusia. Namun yang membedakan dari keduanya
adalah adanya unsur nilai-nilai kebaikan dan unsur moral pada sifat karakter
dan kepribadian. Hal yang dikhawatirkan dari para remaja sebagai calon pemimpin
bangsa adalah bahwa kebanyakan mereka kurang mengerti apa itu karakter dan
kepribadian. Bahkan mereka tidak sadar bahwa karakter dan kepribadian itu sangat
penting dalam jiwa seseorang, apa lagi jiwa pemimpin. Salah satu cara membangun
karakter dan kepribadian adalah dengan memupuk jiwa kepemimpinan sejak dini.
Mulai dari memimpin diri sendiri hingga memimpin bangsa dan negara. (Nur
Sholeh, 2013)
Dari beberapa
definisi dan pengertian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa kepemimipinan
merupakan suatu proses pergerakan dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai
tujuan yang diharapkan yaitu menyangkut (1) keterlibatan orang lain atau
kelompok orang dalam mencapai tujuan (2). Adanya berbagai usaha bersama serta
menyerahkan berbagai sumber (3). Adanya faktor tertentu yang ada dalam jiwa
pemimpin sehingga orang lain bersedia untuk digerakkan atau juga dapat
dipengaruhi. Pembentukan karakter pemimpin memberi sesuatu dampak yang luas
bagi manusia, terutama di masyarakat karena masyarakat adalah bagian dari
seumur hidup kita, yang mana pada suatu keadaan tertentu ataupun dalam keadaan
biasa saja, manusia akan selalu berhubungan dengan masyarakat. Pada keadaan
tertentu, peran masyarakat bagi individual masyarakat atau tetangga yang masih
mempunyai solidaritas tinggi pasti akan tahu keadaannya tetangganya sendiri,misalnya
orang itu baru saja terkena musibah kemalingan motor atau lain sebagainya,
masyarakat itu pasti memiliki rasa
empati , entah pergi kerumah orang
itu untuk membantu atau hanya sekedar menengok keadaannya saja.dalam keadaan
biasa saja mungkin contohnya gotong royong, musyawarah, berkumpul organisasi
atau lain sebagainya, dari keadaan yang seperti itu, seorang pemimpin mempunyai
peranan yang sangat dibutuhkan dalam mengataur masyarakat luas, baik membantu
dari infrastruktur, mengatur ataupun
penyelesaian masalah dalam masyarakat. (Yukl
Garl, 1994)
Dalam
hal ini, dapat kita pelajari dari tokoh-tokoh besar Indonesia yaitu:
[1] Bung Karno, beliau aktif
dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai
organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti
menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Saat bersekolah di Bandung,
Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam
dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi
dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat
itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij. Pada tahun 1926,
Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische
Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club merupakan
cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. (lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno)
[2] KH. Hasyim Asy’ari, beliau
adalah salah satu dari pendiri organisasi besar di Indonesia yaitu, Nahdlotul Ulama’ dalam sejarahnya pada
tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional lainnya,
Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama.
Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim
Asy'ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama
teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai
Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi
penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa. Meski
sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah
perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya
menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama,
tetapi ditolaknya. (lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/ KH_Hasyim_Asy’ari )
[3] Ki Hadjar Dewantara
merupakan tokoh nasional yang tidak asing lagi, berkatnya kita dapat mengenal
pendidikan hingga sampai sekarang ini, dalam kiprahnya, Ki Hadjar Dewantara
meramu untuk menciptakan tata tertib dan kedamaian yang berasal dari
tata nilai dan budaya Jawa serta menjadi tujuan utama Taman Siswa dalam konsep
pengelolaan organisasi melalui demokrasi yang berlandaskan kebijaksanaan, di
sinilah kebijaksanaan tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kenji Tsuchiya menyatakan bahwa konsep “demokrasi
dan kepemimpinan” tersebut diwujudkan dalam salah satu dari tiga prinsip
kepemimpinan guru di Taman Siswa, yakni tut wuri handayani (membimbing
dari belakang). Sang guru bersikap demokratis dengan memberi kebebasan murid
memilih jalannya sendiri, namun dengan tetap mengikuti secara “akrab” serta
memberikan bimbingan pada murid jika diperlukan menurut pertimbangan
kebijaksanaan sang guru. (lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/
Ki_Hadjar_Dewantara)
[4] Tan
Malaka adalah figur intelektual yang produktif melahirkan karya-karya besar di aktivitas kesehariannya sebagai pekerja biasa,
yang selalu berupaya menuliskan gagasan melalui karya-karyanya, kemudian
betul-betul melakukannya dalam praksis kesehariannya. Dari gagasan revolusi
kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka bergerak lebih lanjut dengan mengemukakan
bentuk Federasi Republik Indonesia
yang terdiri dari berbagai pulau yang ada di Indonesia. Namun agaknya Federasi
Republik Indonesia yang ia kemukakan dalam Aksi Massa tidak sebatas Indonesia
yang kita kenal sekarang, melainkan bentangan luas sampai Filipina dan Asia
seluruhnya, di mana ia menyebut Filipina sebagai Indonesia Utara. Hal ini
sebagaimana ia katakan bahwa Federasi Republik Indonesia sebenarnya adalah
persatuan dari 100 juta manusia yang tertindas dan mendiami pusat strategis dan
perhubungan seluruh benua Asia dan samudranya. 33 Terlepas dari itu, gagasan
federasi waktu itu mendasarkan pada kondisi geografis Indonesia yang
berpencar-pencar dalam banyak pulau. Gagasan Tan Malaka tentang Republik
Indonesia terserak dalam banyak
karyanya, selain gagasan Federasi Repubik Indonesia dalam Aksi Massa tersebut,
gagasan Republik Indonesia Tan dapat ditelusuri terutama dalam Naar de
Republiek Indonesia (Menuju Republik
Indonesia). Hasan Nasbi A. menyatakan bahwa gagasan Republik versi Tan
Malaka tidak menganut Trias Politika
Montesquieu. Republik bagi Tan adalah sebuah Negara efisien, Republik yang
dikelola oleh sebuah organisasi.
Sebuah Negara tanpa parlemen, di manadalam tubuh organisasi itulah dibagi
kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa atau pengawas, dan sebagai
badan peradilan. Tidak ada pemisahan antara si pembuat aturan dan si pelaksana
aturan. Di dalam organisasi yang sama pasti ada semacam dewan pelaksana harian,
dan ada sejenis badan kehormatan atau komisi pemeriksa. Begitulah kewenangan
dibagi, tapi tidak dalam badan yang terpisah. (Dalam karya tulis “Intelektual Revolusioner Tan Malaka” oleh Edi
Subkhan)
Dari
berbagai sejarah dan pengalaman para tokoh tersebut, peran organisasi dalam
sebuah kepemimpinan sangat berpengaruh pada hasil yang ingin di capai oleh
suatu organisasi tersebut, karena peran kepemiminan sangat berlaku dalam sebuah
organisasi, dengan kata lain tidak ada sebuah organisasi yang berjalan tanpa
adanya seorang pemimin karena pada dasarnya pemimpinlah itulah yang menggerakkan,
mengorganisir, mempengaruhi, mengarahkan bawahan agar menjadikan sebuah
organisasi itu menjadi baik. Aktifitas kepemimpinan itu sangat penting dalam
suatu organisasi, dimana peran kepemimpinan yang baik dalam organisasi adalah
sebagai pengatur, pengarah aktifitas organisasi untuk mencapai suatu tujuan,
sebagai penanggung jawab kebijakan organisasi, sebagai pemersatu dan
pemotivasi, sebagai pelopor penjalan aktivitas kegiatan, dan juga sebagai pelopor
dalam memajukan organisasi.
Simpulan
Organisasi dapat dikatakan sehat menurut Edghar Schein jika mampu menangkap dengan baik berbagai perubahan
yang terjadi disekitarnya, mampu untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan
perubahan yang terjadi di masyarakat, mampu memperoleh umpan balik dari
berbagai pihak yang terlibat dan mampu memperoleh informasi secara cepat.
Pendapat Edghar Schein dapat di
paparkan bahwa setiap organisasi akan senantiasa mengalami perubahan. Perubahan
itu akan terjadi karena diakibatkan adanya faktor pendorong baik dari dalam
maupun dari luar. Di zaman modern ini seorang pemimpin tidak bisa hanya
mengandalkan kewibawaan dan kharismatiknya saja, akan tetapi seorang pemimpin
dituntut mampu menanggapi perubahan yang terjadi disekitarnya. Peran utama
dalam hal ini merupakan sangat potensial untuk membangun suatu perubahan.
Dalam menanggapi perubahan seorang pemimpin perlu melakukan inovasi
diantaranya pengembangan organisasi, leadership
dan pengembangan individu dalam masyarakat.
Selain hal tersebut dalam melakukan suatu perubahan pengebangan
organisasi, leadership dan pengembangan individu dalam masyarakat, seorang pemimpin
dituntut untuk senantiasa memperhatikan para anggotanya serta lingkungan
sekitarnya dengan bekerjasama dan berkomunikasi yang baik. Dengan melakukan hal
ini, organisasi akan tetap survive
dan ekstensinya tetap dipercaya oleh masyarakat dan kalangan lainnya.
Daftar
pustaka
Basri, S.
(2010). “Organisasi menurut Edghar Schein”
(http://setabasri01.blogspot.com/2010/12/budaya-organisasi.html), pada 27
Desember 2013
Budiharjo, A.(2011).
Organisasi : Menuju Pencapaian Kinerja
Optimum. Jakarta : Prasetya Mulya Publishing.
Garl, Y. (1994). kepemimpinan dalam organisasi.
Jakarta: Victor Jaya Abadi.
Prisma. (2012 ).
“unsur partisipasi dalam organisasi menurut Keith Davis”
(http://prismamika.blogspot.com/2012/04/072-unsur-partisipasi-dalam-organisasi.html), pada 27 Desember 2013
Rivai V,
Mulyadi D. (2005). kepemimpinan dan
perilaku organisasi (edisi 3): indeks
Sholeh, N. (2013, februari 16). Membangun Karakter dan
Kepribadian. Retrieved oktober 29, 2013, from nursholeh-sipil.blogspot.com:
http://nursholeh-sipil.blogspot.com/2013/02/membangun-karakter-dan-kepribadian.html
Subkhan, E. (2013). Intelektual revolusioner Tan Malaka.
Retrieved oktober 29, 2013, from unnes.academia.edu:
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/5195690/Intelektual_Revolusioner_Tan_Malaka.pdf
